Berikut ini adalah tulisan yang khusus saya buat atas request dari pemilik blog. Karena bingung harus menulis apa, jadi saya akan sedikit meracau saja tentang hubungan pria dengan wanita yang sebelumnya pernah saya jalani juga bersama pemilik blog ini.
Ya,saya lah "my G" yg disebut-sebut dalam post sebelumnya.
“Kita datang dan pergi sendirian, begitulah kehidupan.”
Itu kata tokoh Chul-soo di film A Moment To Remember. Dan saya setuju. Sebaik apapun hubungan kita dengan orang tua/keluarga, toh nantinya kita akan menjalani hidup sendiri. Bahkan nantinya setelah kita menemukan orang yang disayangi untuk dijadikan suami/istri, kembali lagi kita akan sendirian saat harus bertemu dengan pencipta kita. Ya, saat kita mati kita akan sendirian bukan? Secinta apapun kita pada orang itu, atau secocok apapun kita dengannya, selama masih dibumi boleh saja kita sangat yakin dengannya, tapi nanti? Saat kita sudah berhadapan dengan maut? Ya, kita sendiri.
Jadi jangan terlalu percaya diri bila saat kamu bertemu seorang pria/wanita yang sangat kamu sayangi dan kamu begitu yakin untuk bahwa mereka adalah belahan jiwamu, karena tidak ada yang bisa menjamin kebahagiaan seperti itu akan terus kamu rasakan. No body knows what will happen next.
Ini yang membuat saya kadang merasa tidak yakin setiap menjalani hubungan. Have you ever thinking, guys? Apakah bila seandainya kita hidup bersama dengan sosok yang kalian sebut “soulmate” itu nantinya kita akan mati bersama juga? Tentu tidak. Sekeras apapun kamu berusaha, sebesar apapun keyakinan kamu terhadap “cinta” yang kamu punya, bila memang takdir tidak mengizinkan maka kalian tidak akan dapat bersatu. Karena hidup ini bisa sangat kejam bagi kita.
Jadi sekali lagi, jangan terlalu percaya diri, karena walaupun saat pacaran kalian bisa merasa sangat bahagia saat bersamanya, belum tentu saat menikah akan merasakan hal yang sama.
Well, inilah yang terjadi pada hubungan saya dan pemilik blog. Saya banyak sekali berpikir. Dan sebenarnya saya mencoba belajar dari pengalaman.
Pernah menjalani hubungan yang tidak disetujui orang tua sehingga harus backstreet? Saya pernah. Pernah nekat kabur dengan laki-laki yang begitu kamu sayangi? Saya pernah. Pernah disumpah Al Qur’an oleh orang tua untuk tidak melakukan hal bodoh dengan laki-laki yg kamu sayang itu? Saya pernah. Dan saya melanggar sumpah itu. Dan setelah sekian banyak melakukan kebodohan yang saat itu saya pikir adalah usaha yang baik untuk bisa bersama dengan pujaan hati, ternyata hasilnya adalah NOL BESAR.
Tidak ada kata setuju dari orang tua, tidak ada peningkatan hubungan, dan tentu saja tidak ada restu dari Tuhan. Malah yang tertinggal hanyalah DOSA.
Jadi saya pikir untuk apa terlalu ngotot berusaha? Ya, katakanlah saya ini pengecut karena mundur sebelum perang. Tapi saya sudah cukup lelah dan malu untuk melakukan usaha-usaha yang menguras tenaga.
Jika saat pacaran saja saya sudah dihadapkan pada masalah-masalah seperti survive dari penolakan orang tua, atau rumitnya memikirkan tempat domisili yang pas karena adanya kemungkinan harus kawin lari. Bagaimana saat saya sudah hidup bersamanya kelak? Apa benar kami bisa hidup bahagia?
Ya, katakanlah saya ini egois, mau enaknya sendiri. Tapi coba pikirkan, dosa terdahulu saya saja sudah begitu banyak hingga berkerak. Apakah harus saya tambah lagi?? Apakah harus saya menyayat lagi luka yang masih membekas di hati orang tua saya waktu itu?
Ada disatu masa saat saya dihadapkan pada suatu pelajaran besar oleh Tuhan. Pelajaran itu membuat saya yakin, tidak perlu ngoyo untuk mendapatkan sesuatu. Berusaha itu perlu, asal masih berada di jalan-Nya. Karena jika tidak, Tuhan bisa saja marah, dan saat itulah kita akan merasakan bahwa hidup bisa sangat kejam.
Ps : kalo mau diedit,edit aja dlu. :)
judulnya juga masih bingung tuh..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar